My Instagram

CTWC, Turnamen Esports Tetris yang Underrated

Classic Tetris World Championship - Sumber: tetris.com

Ada satu Esports yang penulis bisa katakan sangat underrated, meskipun sebenarnya Esports tersebut cukup seru untuk dilihat. Esports apakah itu? Overwatch? R6? atau Paladin? gak salah sih, tapi jawabannya adalah Tetris. Yak, Tetris. Mungkin beberapa dari kalian gak kebayang tentang Esports Tetris tapi nyatanya, sudah ada turnamen Tetris yang sudah diadakan sejak tahun 2010. Turnamen tersebut bernama "Classic Tetris World Championship" yang diadakan di Los Angeles, California sebelum dipindahkan ke Portland, Oregon di negara yang sama, yaitu Amerika Serikat.

Semuanya dimulai pada tahun 1990. Pada saat itu diadakan kompetisi yang bernama "Nintendo World Championship" dimana ada 3 game diperlombakan, salah satunya adalah Tetris. Turnamen Tetris tersebut dimenangkan oleh Thor Aackerlund yang pada saat itu dilihat sebagai pemain Tetris terbaik. Pada tahun 2009, Harry Hong menjadi yang pertama untuk mencapai skor terhitung maksimal, yaitu 999.999 di NES Tetris. Hal tersebut menginspirasi seorang filmmaker, Adam Cornelius untuk membuat film pendek tentang hal tersebut yang berjudul "Max-Out" sekaligus meluncurkan 'kickstarter campaign' untuk mendokumentasikan dunia kompetitif Tetris.

Kemudian, rumor tentang orang-orang lain yang juga mencapai skor maksimal seperti Harry Hong pun menyebar, lalu Adam Cornelius dibantu oleh veteran Nintendo World Championship, Robin Mihara, mengundang seluruh Master Tetris yang mereka temui untuk bertanding satu sama lain pada turnamen CTWC pertama pada tahun 2010. Turnamen tersebut juga didokumentasikan pada sebuah film yang berjudul "Ecstasy of Order: The Tetris Masters".

NES Tetris yang dipertandingkan pada CTWC - Sumber: thectwc

Pada CTWC, utamanya peserta bertanding dalam game Tetris (1984) pada platform NES (Nintendo) atau bisa juga disebut "Classic Tetris" yang dianggap paling cocok untuk turnamen ini. Mengapa paling cocok? untuk Tetris modern pada umumnya, bayangan dari Tetromino (balok-balok pada game Tetris) terlihat, sekitar 4 Tetromino berikutnya diperlihatkan dan Tetromino tersebut juga bisa di-skip sehingga dapat memudahkan game Tetris itu sendiri.

Tapi pada NES Tetris gak ada bayangan yang terlihat, hanya 1 Tetromino berikutnya yang diperlihatkan dan Tetromino juga gak bisa di-skip. Jadi, para pemain dipaksa untuk memikir lebih kedepan, mengambil resiko dan menggunakan trik-trik untuk menghindari game over atau 'top-out'. Nah, selain NES Tetris yang jadi keutamaan CTWC, mereka juga ngadain 'Tetris the Grandmaster' dimana para peserta bermain pada Tetris Modern.

Buat kalian yang masih penasaran tentang pertandingannya, yuk nonton video yang satu ini.
final CTWC 2018 yang sempat viral di Indonesia.

Tercatat pada tanggal penulisan artikel ini, CTWC sudah diadakan 9 kali. Dimana, 7 dari 9 Title CTWC dimenangkan oleh orang yang sama, Jonas Neubauer yang juga selalu berhasil mencapai Grand Final. Namun, 2 dari 9 Title CTWC masing-masing dimenangkan oleh Harry Hong pada tahun 2014 dan Joseph Saelee pada tahun 2018. Hebatnya, tak seperti Jonas Neubauer dan Harry Hong yang merupakan veteran Tetris yang selalu diunggulkan pada setiap CTWC, Joseph Saelee memenangkan title CTWC 2018 pada tahun pertamanya sebagai peserta CTWC!

Bukan cuman itu, saat memenangkan titlenya, Joseph masih berumur 16 tahun dan baru bermain sekitar 2 tahun setelah melihat aksi Jonas Neubauer, lawan yang ia kalahkan di Grand Final itu sendiri. Sehingga, Joseph digadang-gadang sebagai 'Tetris Prodigy' karena kemampuannya pada umur dan tahun tersebut. Nah, faktanya aja nih, rata-rata kontestan CTWC yang diunggulkan berumur diatas 25 tahun, termasuk Jonas dan Harry. Terus, pada tahun 2018 ada dua kontestan muda yang terlihat unggul dan mencapai Semi Finals, yaitu Joseph (16 tahun) dan Greentea (20 tahun)

Jonas Neubauer (kiri), Joseph Saelee (Tengah), Harry Hong (Kanan) - Sumber: VPesports

Lalu bagaimana dengan tahun ini? Secara pribadi buat penulis, tahun ini pastinya sangat menarik. Apakah Joseph bisa mempertahankan titlenya tahun ini? Apakah Jonas masih bisa menjadi tajam seperti biasanya? Apakah setelah kemenangan Joseph tahun lalu, tahun ini akan menjadi transisi dari genereasi lama ke generasi baru? Kita tunggu saja bulan oktober nanti.

Tidak ada komentar