DPC Report: Veni, Vidi, Vici - Sebuah Kisah Determinasi

Sumber: @DreamHackDota
Game pertama seri best of five dari grand final DreamLeague Season 11 - Stockholm Major dibuka dengan perlawanan ketat Virtus.pro yang kerap mengancam keunggulan Vici Gaming. Lima kali mati di tujuh menit pertama, Shadow Shaman yang dimainkan RodjER / Vladimir Nikogosyan membuat Morphling milik Paparazi / Zhang Chengjun menguasai lane dan memperlancar jalannya permainan bagi VG.

Meski terlihat unggul jauh, namun beberapa kali inisiasi balik dari VP mengganjal serangan VG menuju high ground dan menyegerakan selesainya game pertama. Ramzes666 / Roman Kushnarev dan Phantom Lancer miliknya dengan kepala dingin beberapa kali mengoyak kesalahan inisiasi yang dilakukan VG. Berbekal Manta Style dan Diffusal, VP sempat unggul dari VG, dan beberapa tower berhasil dihabisi Serpent Ward dari Rhasta. Sayangnya, hal ini tidak cukup untuk menghentikan Paparazi cs melenyapkan base milik VP.

Sumber: Twitch.tv/dreamleague
Memulai game dengan draft serupa, VG secara mengejutkan melakukan pick Arc Warden untuk Ori / Zeng Jiaoyang. Tidak kalah mengejutkan, VP memberikan respon terhadap Arc Warden dengan melakukan last pick Anti-Mage. Jam telah menunjukkan pukul satu pagi lebih dan penulis dengan berat hati harus menenggak segelas kopi. Diluar dugaan, game kedua tidak sekedar menjadi Farming Simulator.

Bukan rahasia kalau Anti-Mage dan Arc Warden adalah dua hero yang sangat dependan dengan farm. Kemampuan mereka untuk split push juga menjadi ancaman serius kubu lawan. Selama 20 menit pertama, strategi ini dimenangkan VG. Berbekal Midas dan Boots of Travel, Ori mengacak lane yang ditinggalkan VP. Namun, yang terjadi di lane lain tidak jauh berebda dari apa yang dilakukan Anti-Mage, berbekal Battle Fury yang dibuat Ramzes666 sejak menit 12.

Setelah Manta Style milik Ramzes666 datang, keadaan perlahan berubah untuk keunggulan VP. Semakin sulit dikejar dan ditangkap, Ramzes666 terus mendesak ketiga lane VG. Bertindak sebagai single core, keempat pemain lain terus melakukan rotasi dan memaksakan team fight dengan VG, agar Ramzes666 dapat melakukan farm dengan nyaman.

Semua berjalan sesuai strategi, baik dari pihak VG maupun VP. Sayangnya, single core Anti-Mage jauh lebih menyeramkan daripada Weaver dan Arc Warden. Selain karena mereka banyak berbagi farm, apalagi dengan kemampuan wave clear Dark Seer, creep equilibrium tidak lagi dapat menyokong keduanya secara merata. Dieback Ori yang terjadi di menit 44 seharusnya dapat memastikan kemenangan VP. Namun VG menolak kalah hingga menit 49, dan Anti-Mage berhasil menembus angka GPM lebih dari 1000.

Sumber: Twitch.tv/dreamleague
Draft game ketiga dimulai dengan warna baru dari first pick Nyx Assassin bagi VP. Dan lembar baru draft ini ditutup dengan last pick BloodSeeker yang diluar dugaan kembali menjadi kartu as bagi VG, setelah sebelumnya mereka lakukan untuk mengirim Fnatic ke lower bracket.

Kedua lane dari core VG - Ori dan Paparazi - berhasil dimenangkan tanpa perlawanan berarti. Kalah satu item dari Paparazi, Ramzes666 tidak dapat memberikan dampak positif bagi VP untuk mengembalikan keadaan. VG hanya kurang satu game untuk membawa pulang piala dari Stockholm.

Sumber: Twitch.tv/dreamleague
Lama tidak muncul selama turnamen berjalan, Storm Spirit diberikan untuk Noone / Vladimir Minenko. Dengan tangan dinginnya, Noone berhasil mengembalikan VP kembali ke trek menuju gelar juara. Ori membekali dirinya dengan Armlet of Mordiggan, dengan harapan agar dia dapat melakukan push terhadap VP, sekaligus menjadi core utama sampai barang-barang milik Paparazi terbeli.

Kali ini, permainan benar-benar dikendalikan 9pasha / Pavel Khvastunov dan Noone. Sejumlah Vacuum - Wall yang dilancarkan terhadap VP benar-benar menyulitkan VG. Disambut Impale dari RodjER, team fight terakhir berlangsung tepat di depan base VG, dan dimanfaatkan dengan baik oleh VP. Skor menjadi 2-2 dan laga pamungkas dilangsungkan.

Sumber: Twitch.tv/dreamleague
Kita tahu bagaimana VG tidak mudah menyerah. Sedikitpun kemungkinan mereka untuk menang, mereka tidak akan menyerukan gg hingga permainan mustahil dimenangkan. Inilah perbedaan besar mereka dengan VP. Bukan karena VP yang lebih lemah secara mental, namun ini adalah gaya permainan dan kultur yang jauh berbeda dari kedua tim.

Sebagian dari penonton mungkin ingat, bagaimana permainan yang dilangsungkan pukul satu pagi, lalu VG melakukan pick untuk Medusa, semua orang merasa kecewa karena permainan mungkin akan berlangsung hingga adzan subuh dikumandangkan. Sebaliknya, yang terjadi di malam semi final dan grand final kali ini tidak begitu berbeda. Bila draft semi final VG ditutup dengan kejutan berupa BloodSeeker, maka di grand final ini Nature's Prophet menjadi kuncinya, karena Nature's Prophet ini dimainkan Yang / Zhou Haiyang di posisi offlane.

Textbook Dota. Gaya permainan sistematis yang penulis kurang sukai dari tim-tim Tiongkok, namun justru inilah jawaban VG untuk meraih kemenangan. Bermain dengan bersih, Razor milik Paparazi mendominasi bottom lane. Bila sebelumnya kita selalu melihat bagaimana Razor menguasai mid lane, kali ini penonton disuguhi dengan banyak kill dari Paparazi kepada 9pasha dan RodjER.

Yang mungkin dapat kalian bayangkan, bagaimana sebuah match up Nature's Prophet melawan Lycan dan Rhasta. Adu cepat kedua tim dalam menghancurkan objektif membuat penonton terus terjaga. Setiap lane disibukkan dengan wave clear maupun team fight.

Yang menjadi sorotan adalah bagaimana rotasi Yang dapat terus membantu team fight tanpa meninggalkan lane kosong terlalu lama dan membiarkan creep melakukan push terhadap VG. Berbekal Vladimir's Offering, Yang terus menerus memberikan keunggulan aura bagi VG. Noone dan Morphling-nya sempat beberapa kali disulitkan rotasi dari Fade / Pan Yi dan Oracle-nya. Hal ini ternyata menjadi awal kejatuhan VP yang kehilangan core utama mereka.

Bayangkan bila Static Link Razor telah menyedot habis damage hero-mu. Belum lagi Yang yang membeli Crimson Guard di menit 20. Frustasi karena damage yang dilakukan terlalu sedikit dibandingkan core lawan, Noone menyudahi permainan dengan gg out. VG hanya membutuhkan 21 menit di game terakhir untuk memastikan gelar juara bagi mereka.

Sumber: Twitch.tv/dreamleague
Kalau ada skena Dota 2 profesional yang tidak penulis dalami, sudah pasti Tiongkok dan Amerika Selatan. Bicara tentang skena Tiongkok, musim ini semua tahu dominasi PSG.LGD di tiga Major yang telah berjalan, diikuti dua hingga empat tim acak. Aster, EHOME, Keen, Vici. Keempat tim ini mendampingi PSG.LGD berlaga di Major. Siapa sangka satu dari empat nama ini memberikan sebuah kejutan besar setelah kegagalan mereka untuk lolos kualifikasi DreamLeague Season 11 - The Stockholm Major?

Top 10 Anime Comeback. Dua kali berakhir di peringkat 7/8 Major, Vici Gaming gagal lolos kualifikasi Major ketiga di musim Dota Pro Circuit 2018-2019. Bahkan, selama closed qualifier region Tiongkok untuk StarLadder ImbaTV Minor di Kiev, Ukraina, Vici mesti kalah 2-0 terlebih dahulu dari Aster. Dari lower bracket inilah Veni, Vidi, Vici berawal.

Membantai sebuah random stack dari open qualifier, Vici menggilas Aster 2-0 untuk memastikan diri mereka ikut serta pada Kiev Minor. Bagaimana kancah mereka di Kiev sudah pernah penulis bahas. Penulis sendiri tidak menyangka akan kembali menulis tentang perjalanan mereka lebih dari itu.

Sumber: Liquipedia
Berada di grup yang relatif mudah, VG hanya kalah dari Evil Geniuses. Natus Vincere yang baru saja kembali ke Major hanya dapat mencuri kemenangan dari Chaos. VG melaju ke upper bracket. Di grup lain, Liquid yang sedang menjadi tim pesakitan, boleh memulai turnamen dengan kemenangan atas J.Storm. Hanya saja perjalanan mereka terus mengalami kemunduran setelah kalah dari Secret, Keen, dan berakhir di lower bracket best of one melawan Chaos.

Sumber: Liquipedia
VP sendiri memulai perjalanan di play off melawan Fnatic setelah menjuarai grup C. Kalah 2-0 dari Fnatic, VP memulai sebuah perjalanan ajaib di lower bracket. Selama di lower bracket, dengan pengecualian seri melawan Secret, VP selalu kalah game pertama, namun memenangkan dua game berikutnya dari seri best of three melawan Chaos, EG, PSG.LGD, dan Fnatic. Tidak hanya VP, VG sendiri selama di upper bracket selalu mengalami kekalahan terlebih dahulu di game pertama sebelum mencuri kemenangan di dua game berikutnya, mengalahkan tim-tim unggulan seperti Secret, PSG.LGD, dan Fnatic.

Perjalanan ini juga diwarnai hari kedua panggung yang berlangsung sejak siang hari hingga pagi dini hari waktu lokal. Hampir 12 jam nonstop Dota 2 dimainkan di Annexet, Stockholm, Swedia. Apalagi game pertama yang dimainkan di seri terakhir hari itu antara Fnatic dengan VG dimulai dengan game yang berlangsung selama 60 menit. Agar tidak kelelahan, Sad Panda, maskot DreamLeague, membagikan minuman energi dan permen untuk para penonton.

Veni, Vidi, Vici. I came, I saw, I conquered. Tim besutan mantan finalis TI, rOtK / Bai Fan ini berhasil menunjukkan kesungguhan determinasi mereka untuk menaklukkan tim-tim lain. Semua pemain VG memberikan penghormatan lebih atas bantuannya dengan memperkenankan rOtK untuk menjadi yang pertama mengangkat piala Stockholm Major.

Sumber: Liquipedia
Dengan hasil ini, empat tim telah memastikan tiket menuju The International 9 yang akan berlangsung di tanah Tiongkok. Virtus.Pro, Team Secret, dan Evil Geniuses akan melayat ke kandang Vici Gaming. Masih ada dua Major dan Minor lagi. MDL Disneyland Paris yang kualifikasinya sedang berlangsung, dan EPICENTER di Moscow akan menggelar Major di bulan Mei dan Juni mendatang, didahului dua Minor, OGA Dota PIT di Split, Kroasia, dan StarLadder di Ukraina seminggu sebelum masing-masing Major.

Penulis akan kembali memantau kualifikasi region Asia Tenggara, yang mana Tigers, dengan tiga core baru mereka sejak iterasi pertama, 458 / Trinh Van Tho, Dendi / Danil Ishutin, dan Velo / Kim Tae-sung, berhasil kembali ke kualifikasi tertutup setelah sebelumnya memenangkan kualifikasi terbuka region Asia Tenggara. BOOM.ID yang telah dua kali lolos Minor (dan dua kali berakhir di posisi bontot) tidak melakukan perbuahan apapun terhadap roster-nya. Sedangkan Mineski, yang menjegal BOOM.ID dari kualifikasi Stockholm Major, telah berpisah dengan Febby / Kim Yong-min dan pieliedie / Johan Astrom.

Apakah perubahan pada Mineski akan berdampak positif bagi BOOM.ID? Atau justru Tigers yang dapat memanfaatkan kesempatan ini? Saat ini penulis hanya berharap TNC Predator tidak kembali ke performa puncak mereka setelah memenangkan World Electronic Sports Game yang berlangsung bersamaan dengan Kiev Minor silam. Tolong jangan tanya penulis tentang pemain berkebangsaan Filipina dengan nama BLACKPINKXTOKPED yang terdaftar di Liquipedia sebagai carry untuk EVOS. Kemungkinan itu hanya smurf milik iLogic / Bruce Ervandi.

Tidak ada komentar